Minggu, 20 Januari 2013

Menanti Lamaran



            Mungkin banyak yang tak tau dimana letak desa tempat Tinggal Ruminah. Sebuah desa terpencil tempat para penduduk kota biasa mencari seorang calon istri atau paling tidak selingkuhan. Sedangkan para lelaki di desa itu kebanyakan bekerja sebagai buruh. Ah, untuk menutupi betapa hinanya desa tempat tinggalnya Ruminah maka kita samarkan saja nama desa itu menjadi desa X.
            Sudah bukan barang aneh, gadis-gadis muda di desa X sengaja dipinang oleh penduduk kota. Sudah bukan barang aneh lagi desas-desus mengenai calon suami dari para gadis tersebut nantinya. Beberapa kebanyakan bilang harus siap mati jika telah dilamar. Beberapa bilang gadis-gadis pinangan ini kelak akan dijual untuk dijadikan PSK atau kalau beruntung akan dijadikan istri muda dari lelaki dedengkot yang usianya pun tinggal menunggu hari.
            Di desa X ini lah Ruminah hidup. Menanti lamaran membuat Ruminah kecil sering ketakutan sendiri, apalagi usianya sudah menginjak 16 tahun, usia matang di desanya untuk dilamar. Masalahnya siapa kah yang akan melamarnya? Lelaki yang punya kelainan? Seorang germo? Atau kakek-kakek tua?
            Ruminah hanya bisa pasrah ketika ayahnya menanyaan kesiapan Ruminah dilamar. Ruminah hanya mengangguk. Ruminah terpaksa memupuskan cintanya kepada Danu teman kecilnya. Terlebih Danu sekarang entah ada dimana. Tapi Ruminah percaya janji Danu. Dulu sebelum Danu pergi keluar dari desa ia berjanji kelak akan melamar Ruminah. Ah, beginilah nasib gadis desa X menanti lamaran, mencari peruntungan dari gambling.
            Menanti lamaran itu kadang menjemukan ketika bahkan kamu tak tau siapa yang akan melamar. Ruminah hanya bisa berdoa bahwa ia akan bahagia . Ah, Tidak! Tidak hanya dia yang harus bahagia tapi juga kedua orang tuanya, jadi Ruminah hanya berharap kecil bahwa lelaki yang akan melamarnya seorang lelaki kaya, dengan doa khusus Danu lah lelaki kaya itu.
            Hari itu pun datang juga. Ruminah dijemput oleh seseorang yang tak ia kenal. Orang itu memberikan sejumlah uang kepada orang tua Ruminah. Ia menyatakan bahwa ia adalah bawahan dari sang pelamar. Ruminah juga harus menyeberangi pulai untuk bertemu dengan sang pelamar. Beribu-ribu kali Ruminah memanjatkan nama Danu. Ruminah percaya janji Danu. Bukannya cinta tentang kepercayaan? Ah, siapa kah yang akan menjadi suami Ruminah kelak?
***
Danu tertegun mendapati sosok yang datang ke tempatnya. Bukan Ruminah ini! Bukan Ruminah ini yang Danu inginkan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar